Persis ketika jam berdengung menunjukkan pukul 12 malam
Aku melangkahkan kaki menuju beranda rumah.
Bulan lah yang menarikku keluar.
Sinarnya cukup cerah hari ini.
Mengingatkan atas permintaanmu tentang dirimu dan rembulan.
Aku pandangi sang rembulan, adakah dirimu berada di situ?
Di antara celah sinarnya, atau
Di antara waktu yang selimutinya?
Dalam hening, aku dengar irama detak jantungku, deru nafasku, sambil menatapmu dalam-dalam.
Wahai yennash...
Adakah kau rasakan alur ini dalam hening tidurmu?
Adakah kau sadari tentang perasaan yang tiba tiba hadir tanpa pernah ter mengerti, kenapa harus hadir?
Doa ku telah melebur bersama angin malam ini.
Dan kau sedang menghirupnya dengan lembutmu.
Semoga dia sanggup melemahkan kekuatan gelisah yang sedang kuasai dirimu.
Bulan semakin terang saja dalam pandanganku malam ini.
Dan bulan kini mengajakku untuk mengintip tidur mu.
Adakah aku dalam bawah sadarmu?
Sebab aku telah ciptakan manekin dirimu malam ini.
Agar tetap menikmati untuk perjalanan malam selanjutnya.
"Wahai Yennash, kau dengarlah jerit malam ini.
Sebagai perenungan langlahmu esok hari.
Nenk yenni
Agustus2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar